Assigment 13

Instructions

Rangkum pertemuan 13. sertakan buktinya

Status : Tercapai
Keterangan : Sudah mengerjakan
Pembuktian :

Rangkuman Materi
NIKAH
Pengertian
Nikah asal kata ‘na-ka-ha’ bermakna kawin atau mengawinkan, jika ditinjau dari sudut bahasa ‘nikah’ bermakna juga berkumpul, atau menghimpun.
Secara Syara’ yaitu akad (ikatan) yang menghalalkan persetubuhan antara laki-laki dan perempuan dengan lafadz-lafadz yang menunjukan nikah menurut hukum Islam. Kata yang wajib digunakan yaitu “Kawin atau Nikah” (za-wa-ja atau na-ka-ha).
Dalil atau landasan pernikahan yaitu : surat An-Nur /24 :32  ‘Dan nikahkanlah orang yang masih membujang (jomblo) diantara  kamu. Dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan.  Jika mereka miskin Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui”
Atau Hadits “An-nikahu sunnatii, fa man roghiba an-sunnatii fa-laisa minnii” (nikah itu sunah/kodratku, barangsiapa yang benci/tidak suka sunahku, maka dia bukan golongan umatku.

Rukun dan Syarat syah Nikah

Rukun Nikah :

  1. Mempelai laki (calon suami)
  2. Mempelai wanita (calon istri)
  3. Dua orang saksi
  4. Wali Nikah
  5. Ijab dan Qobul (ijab : pernyataan menikahkan dari wali nikah, Qobul : pernyataan terima dari pihak mempelai laki).

Syarat Syah Nikah:

Bagi calon suami ;

  1. Bukan muhrim dengan calon istri/mempelai wanita.
  2. Mengetahui walinya.
  3. Tidak dalam ihram haji atau umroh.
  4. Dengan kerelaan sendiri.
  5. Tidak sedang memiliki istri empat.
  6. Tahu bahwa perempuan yang dikehendaki syah.

Bagi calon Istri :

  1. Perempuan tertentu,
  2. Bukan Muhrim.
  3. Bukan khunsa (bencong).
  4. Tidak dalam ihram haji atau umroh.
  5. Tidak sedang masa idah.
  6. Bukan masih dalam syah istri orang.

Syarat Wali :

  1. Laki-laki.
  2. Dengan kerelaan hati.
  3. Tidak dalam ihram haji atau umroh.
  4. Tidak fasik.

Tidak cacat pikiran (stres, pikun, amnesia, gila)

  1. Tidak dalam ditahan kuasanya.

Syarat  saksi :

  1. Islam
  2. Berakal
  3. Baligh
  4. Laki-laki
  5. Paham kandungan ijab dan Qobul.
  6. Dapat mendengar, melihat dan bicara.
  7. Adil (tidak dalam dosa besar).

Syarat Ijab :

  1. Pernikahan/nikah hendaklah tepat.
  2. Tidak boleh menggunakan kata2 sindiran.
  3. Diucapkan wali atau wakilnya.
  4. Tidak diikatkan tempo.
  5. Tidak secara taklik (tiada sebutan prasyarat sewaktu ijab dan qobul)

Syarat Qobul :

  1. Ucapan harus sesuai ucapan ijab.
  2. Tidak perkataan sindiran
  3. Dilafadzkan oleh calon suami.
  4. Tidak diikatkan dengan tempo,
  5. Tidak secara taklik.
  6. Menyebut nama calon istri.
  7. Tidak diselingi perkataan lain.

Hukum Nikah

  • Wajib : bagi mereka yang kuat nafsunya, tidak mampu menjaga nafsunya serta memiliki kemampuan (mahar dan biaya nikah).
  • Sunah : Punya biaya nikah namun mampu menjaga nafsu seksnya.
  • Harus : Tiada baginya bantahan atau halangan untuk kawin/nikah.
  • Makruh : Bagi mereka yang tidak memeliki kemampuan secara lahir dan bathin.
  • Haram : pernikahan yang punya maksud mendholimi pasangannya

Hikmah Nikah

  • Cara halal menyalurkan nafsu seks/libido.
  • Memperoleh ketenangan hidup dan kasih sayang.
  • Memelihara kesucian.
  • Melaksanakan tuntunan syariat Islam.
  • Menjaga keturunan.
  • Mewujudkan kerjasama dan tanggungjawab.
  • Dapat mempererat silaturrahmi

Penyebab Haramnya Sebuah Pernikahan
Perempuan yang diharamkan menikah oleh laki-laki disebabkan karena keturunannya (haram selamanya). Hal ini dijelaskan dalam surah An-Nisaa’, “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan

saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS:An-Nisaa’[4]:23).

  1. Orang yang dinikahi karena mahram adalah “
    • Ibu
    • Nenek dari ibu maupun bapak
    • Anak perempuan & keturunannya
    • Saudara perempuan segaris atau satu bapak atau satu ibu
    • Anak perempuan kepada saudara lelaki mahupun perempuan, yaitu semua anak saudara perempuan
  1. b. Perempuan yang diharamkan menikah oleh laki-laki disebabkan oleh susuan ialah:
  • Ibu susuan
  • Nenek dari saudara ibu susuan
  • Saudara perempuan susuan
  • Anak perempuan kepada saudara susuan laki-laki atau perempuan
  • Sepupu dari ibu susuan atau bapak susuan
  1. c. Perempuan mahram bagi laki-laki karena persemendaan ialah:
  • Ibu mertua
  • Ibu tiri
  • Nenek tiri
  • Menantu perempuan
  • Anak tiri perempuan dan keturunannya
  • Adik ipar perempuan dan keturunannya
  • Sepupu dari saudara istri
  • Anak saudara perempuan dari istri dan keturunannya

Peminangan
Lamaran merupakan suatu ikatan janji pihak laki-laki dan perempuan untuk melangsungkan pernikahan mengikuti hari yang dipersetujui oleh kedua pihak. Meminang merupakan adat kebiasaan masyarakat Melayu yang telah dihalalkan oleh Islam. Peminangan juga merupakan awal proses pernikahan. Hukum peminangan adalah harus dan hendaknya bukan dari istri orang, bukan saudara sendiri, tidak dalam iddah, dan bukan tunangan orang.Pemberian seperti cincin kepada wanita semasa peminangan merupakan tanda ikatan pertunangan.
Melihat calon suami dan calon istri adalah sunat, karena tidak mau penyesalan terjadi setelah berumahtangga.
Pernikahan Yang Dilarang Dalam Syari’at Islam
Allah tidak membiarkan para hamba-Nya hidup tanpa aturan. Bahkan dalam masalah pernikahan, Allah dan Rasul-Nya menjelaskan berbagai pernikahan yang dilarang untuk dilakukan.
Nikah Syighar

Salah satu Nikah yang di larang dalam agama Islam adalah Nikah Syighar, yaitu, seseorang menikahkan anak perempuan-nya dengan syarat; Orang yang menikahi anak nya itu juga menikahkan putri yang ia miliki dengan nya. Baik itu dengan memberikan maskawin bagi keduanya, maupun salah satu nya saja atau tidak memberikan maskawin sama sekali. Semua itu tidak di benarkan menurut Syari’at Islam.
Nikah Tahlil
Nikah Tahlil yaitu menikahnya seorang laki-laki dengan seorang wanita yang sudah ditalak tiga oleh suami sebelumnya. Lalu laki-laki tersebut mentalaknya. Hal ini bertujuan agar wanita tersebut dapat dinikahi kembali oleh suami sebelumnya (yang telah mentalaknya tiga kali) setelah masa ‘iddah wanita itu selesai.
Nikah Mut’ah
Nikah mut’ah disebut juga nikah sementara atau nikah terputus. Yaitu menikahnya seorang laki-laki dengan seorang wanita dalam jangka waktu tertentu; satu hari, tiga hari, sepekan, sebulan, atau lebih. Para ulama kaum muslimin telah sepakat tentang haram dan tidak sahnya nikah mut’ah. Apabilah telah terjadi, maka nikahnya batal. Telah diriwayatkan dari Sabrah al-Juhani radhiyal-laahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kami untuk melakukan nikah mut’ah pada saat Fathul Makkah ketika memasuki kota Makkah.

Nikah Dalam Masa ‘Iddah

Berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah, “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu Menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) Perkataan yang ma’ruf.
Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS:Al-Baqarah[2]:235).
Nikah Dengan Wanita Musyrik dan Non-Muslim
Berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah, “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.
Nikah Dengan Wanita-Wanita Yang Diharamkan Karena Senasab Atau Hubungan Kekeluargaan Karena Pernikahan
Berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nisaa’, “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan [1]; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS:An-Nisaa'[4]:23)  . Maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu, menurut jumhur ulama Termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya.
Nikah Dengan Wanita Yang Haram Dinikahi Disebabkan Sepersusuan
Berdasarkan surat An-Nisaa’ ayat 2 di atas
Nikah Yang Menghimpun Wanita Dengan Bibinya, Baik Dari Pihak Ayahnya Maupun Dari Pihak ibunya
Berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak boleh dikumpulkan antara wanita dengan bibinya (dari pihak ayah), tidak juga antara wanita dengan bibinya (dari pihak ibu.
Nikah Muhallil (Nikah Dengan Isteri Yang Telah Ditalak Tiga).
Wanita diharamkan bagi suaminya setelah talak tiga. Tidak dihalalkan bagi suami untuk menikahinya hingga wanitu itu menikah dengan orang lain dengan pernikahan yang wajar (bukan nikah tahlil), lalu terjadi cerai antara keduanya. Maka suami sebelumnya diboleh-kan menikahi wanita itu kembali setelah masa ‘iddahnya selesai. Berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah, “Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain.
Nikah Pada Saat Melaksanakan Ibadah Ihram
Orang yang sedang melaksanakan ibadah ihram tidak boleh menikah, berdasarkan sabda Nabi “Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah atau melamar.
Nikah Dengan Wanita Yang Masih Bersuami
Berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nisaa’,  “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan Dihalalkan bagi kamu selain yang demikian  (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya. Ialah: selain dari macam-macam wanita yang tersebut dalam surat An Nisaa’ ayat 23 dan 24.
Nikah Dengan Wanita Pezina/Pelacur
Berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nuur, “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin” (QS:An-Nuur[24]:3) Maksud ayat ini Ialah: tidak pantas orang yang beriman kawin dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya.

Seorang laki-laki yang menjaga kehormatannya tidak boleh menikah dengan seorang pelacur. Begitu juga wanita yang menjaga kehormatannya tidak boleh menikah dengan laki-laki pezina. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nuur :“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang” (QS:An-Nuur[24]:26).
Nikah Dengan Lebih Dari Empat Wanita

Berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nisaa’, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil , Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS:An-Nisaa'[4]:3) Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah. Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh Para Nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w. ayat ini membatasi poligami sampai empat orang saja.