Assigment 12

Instructions

Rangkum pertemuan 12. sertakan buktinya

Status : Tercapai
Keterangan : Sudah Mengerjakan
Pembuktian :

 

Rangkuman Materi

Akhlaq
Akar kata ‘Akhlaq’ dalam bahasa ‘Arab adalah ‘kholaqo’ yang merupakan akar kata-kata ‘kholiq’, ‘kholq’ dan ‘makhluq’. ‘kholaqo’ sendiri berarti menciptakan. Ketiga kata ‘Kholiq’. ‘Akhlaq’ dan ‘makhluq’ merupakan kata yang saling berhubungan erat. Dan ini bisa kita sama-sama rujuk kepada Al-Qur’an, surat Ar-Rahmaan, “Ar-Rahmaan (Allah, Al-Kholiq). (Yang) Mengajarkan Al-Qur’an. (Yang) Menciptakan (kholaqo) Manusia (Al-Insaan, Al-Makhluuq). (Yang) mengajarkannya Al-Bayaan” (QS:Ar-Rahmaan[55]:1-4), dengan bashirah (daya pandang) yang semoga senantiasa dituntun oleh fitrah yang suci, kita akan memahami hakikat ayat diatas bahwa Allah adalah Al-Khaliq yang telah menciptakan makhluq-Nya (manusia) dan membekalinya, menuntunnya, mengajarkan melalui utusannya Al-Qur’an yang merupakan penjelas bagi segala sesuatu (Al-Bayaan).

Dengan berbekal dan berpedoman kepada Al-Qur’an manusia menjadi terbimbing dan terarah hidupnya. Jadi akhlaq didalam Islam sangatlah berbeda dengan sopan santun, etika, atau moral. Aktualisasi akhlaq adzimah dan karimah akan dirasakan oleh manusia dalam kehidupan perseorangan, berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat dan bernegara

Manusia tanpa akhlaq akan kehilangan derajat kemanusiaannya, bahkan akan lebih rendah derajatnya dari pada binatang. Apabila aktivitas akal manusia tidak dibimbing dengan akhlaq adzimah dan karimah, maka kehancuran dalam masyarakat tidak dapat dibendung lagi.

Dengan memahami, menghayati serta mengamalkan akhlaq adzimah dan karimah diharapkan manusia mampu untuk mengendalikan diri, memperhatikan kepentingan orang lain, penuh tenggang rasa, mampu memupuk rasa persatuan dan kesatuan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, serta dapat hidup sebagai warga negara yang baik, yang selalu mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya yang telah di terjemahkan dalam visi, misi, tujuan, sasaran, dan dan strategi pencapaian suatu negara.

Manusia adalah makhluk yang memiliki kapasitas untuk melakukan penalaran berfikir, merasa dan berbuat atau bertingkahlaku. Kapasitas itu dimungkinkan karena manusia dibekali Allah dengan potensi nafsiyah dan jasadiyah. Namun untuk mampu mengembangkan kapasitas tersebut secara baik, fungsional, dan sempurna, manusia memerlukan pelaksanaan akhlaq adzimah dan karimah.
Akhlaq adzimah dan karimah bukanlah semata-mata anjuran menuju perbaikan nilai kehidupan manusia didunia, tapi ia memberikan dampak bagi kehidupannya di akhirat. Seseorang yang berakhlaq adzimah dan karimah tentunya akan mendapat ganjaran pahala, dan sebaliknya orang yang berakhlaq sayyiah pasti ia akan merasakan adzab Allah yang sangat pedih.Realitas sosial sebelum “bi’tsah” Nabi telah melahirkan nilai-nilai moral yang sudah berakar dan tertancap kuat di tengah-tengah masyarakat Arab. Substansi misi suci Nabi terkait erat dengan semangat “rabbaniyah dan insaniyah” yaitu pola hubungan antara dimensi vertikal (hablum min Allah) dan dimensi horizontal (hablum min An-Naas).
Definisi Akhlaq
Menurut bahasa, akhlaq itu berasal dari kata ( الخلق ) yang berarti Gerakan dan sikap lahiriyah yang dapat diketahui dengan indera penglihat, dan juga berasal dari ( الخلق ) yaitu perangai dan sikap mental yang dapat diketahui dengan bashiroh ( mata hati ). Sementara menurut istilah akhlaq ialah sifat-sifat, perangai atau tabi’at seseorang dalam bergaul dengan orang lain atau dalam bermasyarakat. Menurut Imam Gazali, akhlaq adalah keadaan yang bersifat batin dimana dari sana lahir perbuatan dengan mudah tanpa dipikir dan tanpa dihitung resikonya (al khuluqu haiatun rasikhotun tashduru ‘anha al afal bi suhulatin wa yusrin min ghoiri hajatin act_fikrin wa ruwiyyatin. Sedangkan ilmu akhlaq adalah ilmu yang berbicara tentang baik dan buruk dari suatu perbuatan.

Menurut Al-Ghozali, kata “khuluq” dan “khalaq” adalah dua kata yang digunakan secara bersama. Yang dimaksud “khalaq” adalah sikap lahiriyah, sedangkan “khuluq” adalah sikap dari bathiniyah. Khuluq adalah bentuk jiwa (nafs) yang terpatri yang darinya muncul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Jika suatu bentuk jiwa memunculkan perbuatan indah  dan terpuji berdasarkan aqal dan syari’at, maka hal itu dinamakan akhlaq hasanah (akhlaq yang baik). Namun, jika dari jiwa tersebut muncul perbuatan-perbuatan buruk maka dinamakan akhlaq sayyi’ah (akhlaq yang buruk).

Dikatakan “yang terpatri” (tertanam) karena orang yang mendermakan harta hanya untuk kebutuhan yang bersifat sementara, maka khuluq-nya tidak dikatakan dermawan selama hal itu tidak terpatri dalam dirinya. Atau jika perbuatan-perbuatan itu muncul dari pelakunya dengan sulit dan ragu-ragu, maka ia tidak dipandang sebagai pembawaan (malakah) atau khuluq, seperti seseorang berbuat baik karena terpaksa atau ragu-ragu maka ia bukan bentuk jiwa yang terpatri atau pembawaan jiwa yang darinya akan melahirkan perbuatan. Perbuatan yang lahir dari khuluq ini disebut akhlaq. Bisa saja khuluqnya adalah dermawan tetapi ia tidak mendermakan hartanya, apakah karena tidak ada (tidak punya) atau karena ada halangan?. Bisa pula khuluqnya adalah bakhil tetapi ia mendermakan harta, apakah karena motivasi untuk mendapat pujian (riya’) atau motiv dan kepentingan lainnya. Dengan demikian khuluq merupakan bentuk (atau pembawaan) jiwa dan rupa batiniyah, sedangkan akhlaq adalah perbuatan-perbuatan yang lahir dari bentuk atau rupa jiwa tersebut. Terdapat dua macam akhlaq dalam Islam yaitu :

Pertama, akhlaq sayyiah (tercela) qobihah/madzmunah. Yaitu, semua yang dilarang Islam berupa keburukan atau kejahatan yang merugikan manusia dan kehormatannya, atau yang dianggap merusak makhluk secara umum dalam pandangan Al-Quran dan Sunnah. Akhlaq sayyiah (tercela) qobihah/madzmunah  dasarnya adalah naluri, pendapat manusia, fikiran, aliran filsafat, dll. Di antara akhlaq sayyiah adalah menggunjing, mengadu domba, dan menipu.

Kedua, akhlaq hasanah (baik), adalah akhlaq yang terpuji, akhlaq di mana kebaikan dibalas dengan kebaikan dan kejahatan dibalas dengan kejahatan yang serupa. Akhlaq hasanah hanya akan bisa berjalan atau di laksanakan dengan landasan empat pilar yaitu aqidah, syariah, qiyadah, dan daulah. Dengan demikian akhlaq hasanah.  Akhlaq Hasanah inilah yang akan melahirkan Akhlaq Adzimah dan Karimah.

a. Akhlaq Adzimah
Akhlaq adalah bentuk jamak (plural) dari kata khuluq. Dalam Al-Qur’an kata khuluq disebut diantaranya pada surat Al-Qalam, “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS:Al-Qalam[68]:4).

Sedangkan dalam hadits banyak disebutkan diantaranya, ketika Siti Aisyah ditanya oleh para sahabat tentang akhlaq Rasulullah SAW, ia menjawab dengan singkat: كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآن)) “Akhlaq Rasulullah sawSAW adalah Al-Qur’an”.(HR.Muslim). “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq manusia”.

Akhlaq adzimah adalah akhlaq dalam menjalankan dan menegakkan prinsip-prinsip lembaga. Akhlaq adzimah adalah akhlaq berlembaga muslim, mu’min, dan mujahid. Akhlaq adzimah bersifat faridhoh.
b. Akhlaq Karimah

Akhlaq karimah (mulia), yaitu berperilaku sebagaimana yang diperintahkan Islam. Akan tetapi, bila ditimpa kejahatan oleh orang lain, ia tidak membalas. Walaupun mampu membalasnya, ia justru memaafkan. Akhlak mulia ini ditegaskan dalam surat Asy-Syuura, “Semoga kita mengikuti Ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang” (QS:Asy-Syu’araa[26]:40)

Akhlak merupakan timbangan atau neraca kebaikan. Rasulullah saw bersabda :”sesungguhnya orang yang terbaik diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhori Muslim)

Akhlak merupakan penyempurna keimanan. Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknnya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Akhlaq adalah pemberat timbangan (kebaikan) pada hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda:”Tidak ada sesuatu yang dapat memperberat timbangan (kebaikan) seorang mu’min pada hari kiamat selain kebaikan akhlaknya.” (HR. Tirmidzi). Akhlaq merupakan pengantar ke surga. Rasulullah SAW bersabda:” Taqwa kepada Allah dan Akhlaq yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Landasan Akhlaq

Akhlaq adzimah adalah akhlaq dalam menjalankan dan menegakkan prinsip-prinsip lembaga. Akhlaq adzimah adalah akhlaq berlembaga muslim, mu’min, dan mujahid. Akhlaq adzimah bersifat faridhoh. Akhlaq adalah hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan dan perjuangan keras dan sungguh-sungguh. Ibnu Miskawaih, Ibn Sina, al-Ghazali dan lain-lain termasuk kelompok yang mengatakan akhlaq adalah hasil usaha (Muktasabahah).
Pada kenyataanya dilapangan, usaha pembinaan akhlaq melalui berbagai bidang ilmu dan berbagai macam metode terus dikembangkan. Ini menunjukkan bahwa akhlaq memang perlu dibina, dan pembinaan ini ternyata membawa hasil berupa terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlaq mulia, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hormat kepada orang tua, sayang kepada sesama makhluk Allah.

  1. Aqidah (Aqidah Tauhid). Aqidah tauhid menjadi dasar aplikasi akhlaq
  2. Syari’ah.

Hukum merupakan landasan kedua dari akhlaq adzimah. Syari’ah merupakan sarana dan prasarana melaksanakan ibadah secara totalitas kepada Allah. Syari’ah juga akan menjadi mekanisme dan aturan-aturan baku dalam melaksanakan akhlaq adzimah. Seperti firman Allah, “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama  dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)” (QS:Asy-Syuraa[42]:13). Dan dilanjutkan dengan firman Allah dalam surat Ali-Imran, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab , kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya” (QS:Ali-Imran[3]:19), “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi” (QS:Ali-Imran[3]:85).

Khuluq yang menunjukan arti akhlaq disebutkan Al-Qur’an dalam dua ayat, yakni, “(agama Kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu” (QS:Asy-Syu’araa[26]:137) dan “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS:Al-Qalam[68]:4).

Kedua ayat tersebut menjelaskan dua bentuk (wujud) akhlaq yang berbeda dan saling berlawanan (bertolak belakang) yakni akhlaq sayyi’ah dan akhlaq hasanah (adzimah). Ayat pertama “(agama Kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu” (QS:Asy-Syu’araa[26]:137) menjelaskan tentang alasan dan dasar penolakan orang-orang kafir terhadap da’wah Nabi Hud Alahi salam.Yang dimaksud: agama di sini ialah meng-Esakan Allah s.w.t., beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta mentaati segala perintah dan larangan-Nya.

Maksudnya ialah Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran.

Nabi Hud mengajak mereka kedalam Islam, namun seruan da’wah ini ditolak oleh mereka berdasarkan pertimbangan adat istiadat. Mereka mengatakan bahwa apa yang diserukan (disampaikan) oleh Nabi Hud tidak lebih mulia dari khuluqul awawalin (akhlaq nenek moyang mereka). Bahwa agama mereka sudah menjadi adat istiadat sejak jaman dahulu (nenek moyang), sehingga memiliki dasar sejarah yang kuat, oleh karena itu ia mesti dipelihara (dilestarikan).
Sedangkan apa yang diserukan oleh Nabi Hud adalah sesuatu yang baru dan bertentangan dengan adat kebiasaan nenek moyang mereka. Yang dimaksud kata “khuluq” dalam ayat tersebut adalah adat, kebiasaan, norma, moral, etika, tabiat. Sedangkan “awwalin” berarti para pendahulu atau nenek moyang yang menjadi sumber (atau akhlaq) tersebut. Jadi “khuluqul awwalin” yang dimaksud adalah sistem nilai dan pola tingka laku (akhlaq) yang dianggap benar oleh masyarakat kafir.

Sebaliknya Al-Qur’an menegaskan bahwa akhlaq Muhammad setelah turunnya wahyu dan hidup sesuai dengan Al-Qur’an adalah akhlaq paling mulia (“akhlaqul adzimah”), sedangkan sebelum itu kondisi Muhammad dinyatakan oleh Allah (Al-Qur’an) berada dalam keadaan “dholal” (sesat), meskipun oleh masyarakatnya pada waktu itu beliau digelari sebagai “Al-Amin” (dapat dipercaya).

Dari kedua ayat diatas, kata akhlaq (khuluq) mengandung arti sebuah sistem nilai dari tatanan/pola tingkah laku (etika, moral) yang dibangun diatas landasan dasar serta tujuan tertentu, yang mengikat dan menjadi rujukan serta tujuan tertentu, yang mengikat dan menjadi rujukan dalam perilaku seseorang atau sekelompok masyarakat, seperti firman Allah,  “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS:Al-Ahzab[33]:21)

Dalam ayat tersebut kita diperintahkan mengikuti Rasulullah. Rasulullah adalah tauladan yang paling baik dan sempurna. Abu Ad-darda’ berkata: aku mendengar Rasulullah Sholallahu ‘alahi wasalam bersabda, “sesuatu paling utama yang diletakan pada timbangan adalah akhlaq yang baik dan kedermawanan”.

Dalam hadits tersebut akhlaq hasanah merupakan penguat dan penyempurna iman (keyakinan). Tidak dapat dipisahkan antara iman dan penguatnya. Iman yang tidak diperkuat oleh akhlaq adalah iman yang lemah dan akan mudah rapuh (hancur). Jadi akhlaq adalah sesuatu yang bisa mendukung pertumbuhan dan perkembangan iman dalam jiwa (diri).

Dalam hadits lain disebutkan, “Akhlaq yang baik adalah akhlaq Allah yang Maha Agung” dan berakhlaq-lah kalian dengan Akhlaq Allah:. Yang dimaksud Akhlaq Allah subhanallahu ta’ala adalah Al-qur’an. Atau didalam hadits  shaihain disebutkan dari Abu Hurairah radiyallahu anhu bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alahi wasalam bersabda, “sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghitungya, maka dia masuk syurga”. Ibnu katsir r.a. dalam tafsirnya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “menghitungnya” ialah memahami maknanya dengan sesungguhnya serta mengamalkan haknya.
Qiyadah

Sebagai sarana tegaknya risalah. Qiyadah juga menjadi tolok ukur sempurna tidaknya akhlaq adzimah seorang muslim. Seorang muslim bisa di katakan memiliki akhlaq adzimah, jika ia taat dan patuh pada struktur kepemimpinan di lembaga risalah.
Daulah. Sebagai wujud lembaga mulkiyah. Daulah menjadi wadah bagi setiap muslim, mukmin mujahid dalam menjalankan akhlaq adzmiah.
Proses dan Tahapan Pembentukan Akhlaq

Pembinaan akhlaq merupakan tumpuan perhatian pertama dalam Islam. Hal ini dapat dilihat dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad  SAW, yang utama adalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia. Perhatian Islam yang demikian terhadap pembinaan akhlaq dapat pula dilihat dari perhatian Islam terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan dari pada pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik inilah akan lahir perbuatan yang baik yang selanjutnya akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan batin.

Perhatian Islam dalam pembinaan akhlaq selanjutnya dapat dianalisis pada muatan akhlaq yang terdapat pada seluruh aspek ajaran Islam. Ajaran Islam tentang keimanan misalnya sangat berkaitan erat dengan mengerjakan serangkaian amal saleh dan perbuatan terpuji. Seperti dalam Al-Qur’an, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian itu mereka tidak ragu-ragu dan senantiasa berjuang dengan harta dan dirinya di jalan Allah. Itulah orang-orang yang benar (imannya)”. (QS:Al-Hujurat [49]:15).

Islam sangat memberi perhatian yang besar terhadap pembinaan akhlaq, termasuk cara-caranya. Hubungan antara rukun iman dan rukun islam terhadap pembinaan akhlaq yang ditempuh islam adalah menggunakan cara atau system yang integrated, yaitu system yang menggunakan berbagai sarana peribadatan dan lainnya secara simultan untuk diarahkan pada pembinaan akhlaq. Cara lain yang dapat ditempuh untuk pembinaan akhlaq ini adalah pembiasaan yang dilakukan sejak kecil dan berlangsung secara kontinyu. Berkenaan dengan ini imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kepribadian manusia itu pada dasrnya dapat menerima segala usaha pembentukan melalui pembiasaan.

Dalam tahap-tahap tertentu, pembinaan akhlaq, khususnya akhlaq lahiriah dapat pula dilakukan dengan cara paksaan yang lama kelamaan tidak lagi terasa dipaksa.

Cara lain yang tak kalah ampuhnya adalah melalui keteladanan. Pendidikan itu tidak akan sukses, melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata. Cara yang demikian itu telah dilakukan oleh Rasulullah. Keadaan ini dinyatakan dalam ayat yang berbunyi, “Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat contoh teladan yang baik bagi kamu sekalian, yaitu bagi orang yang mengharapkan (keridlaan) Allah dan (berjumpa dengan-Nya di) hari kiamat, dan selalu banyak menyebut nama Allah”. (QS:Al-Ahzab[33]:21).
Manfaat Akhlaq Mulia
Al-Qur’an dan hadits banyak sekali memberi informasi tentang manfaat akhlaq yang mulia. Allah berfirman,”Barangsiapa mengerjakan perbuatan yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surge, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab”. (QS:Al-Mu’min[40]:40).

Selain ayat diatas, ada pula ayat lain yang memberi pemaparan mengenai akhlaq mulia, misalnya pada surat an-Nahl ayat 97 dan pada al-Kahfi ayat 88. Ayat-ayat tersebut dengan jelas menggambarkan keuntungan atau manfaat dari akhlaq yang mulia. Mereka itu akan memperoleh kehidupan yang baik, mendapatkan rizki yang berlimpah, dsb. Selanjutnya dalam hadits juga disebutkan keterangan tentang keberuntungan dari akhlaq yang mulia, antara lain:

  1. Memperkuat dan menyempurnakan agama
  2. Mempermudah perhitungan amal di akhirat
  3. Menghilangkan kesulitan
  4. Selamat hidup di dunia dan akhirat

Akhlaq memiliki ikatan erat dengan hakekat eksistensi manusia. Manusia diciptakan dengan memiliki status, tujuan, tugas dan tanggung jawab dari keberadaannya. Dan semua kehidupan di dunia ini pada dasarnya adalah dalam rangka melaksanakan status, tujuan, tugas dan tanggung jawab hidup tersebut. Dalam rangka menjalankan eksistensinya, manusia diberikan potensi jiwa berupa sam’a, abshor, af’idah. Jiwa ini diciptakan dalam keadaan fitrah. Fitrah ini adalah konsep dasar penciptaan manusia (Qs.30:30). Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, “kullu mauludin yuuladu ‘alal fitrah”, Artinya setiap anak dilahirkan dalam keadaan tauhid (mu’min). tabi’at asli jiwa adalah fitrah (tauhid).
Sedangkan di dalam jiwa manusia terdapat dua kekuatan yang satu sama lain saling bertarung dan berperang untuk menguasainya, yakni akal dan hawa. Pertarungan akal dan hawa dalam jiwa inilah yang akan menentukan akhlaq seseorang. Jika jiwa menjadi hamba dari hawa maka kecenderungan fitrahnya menjadi tertutup, dan akhlaq yang lahir dari jiwa yang didominasi hawa (atau fitrahnya tertutup) adalah akhlaq yang sesuai dengan dorongan-dorongan hawa tersebut. Sebaliknya, jika jiwa dikuasai oleh aqal maka bentuk jiwa seseorang akan baik, dan dari bentuk jiwa yang baik ini maka melahirkan akhlaq yang baik.

Akhlaq adalah perwujudan seseorang dalam rangka memenuhi dan mewujudkan eksistensi kemanusiaannya. Atau dengan kalimat lain, pengertian akhlaq dapat dinyatakan sebagai perwujudan eksistensi manusia yang diproses dari fitrahnya melalui integrasi dengan faktot internal dan eksternal dirinya yang berefleksi dalam bentuk cara pandang (pola piker) dan tingkah laku.

Akhlaq sayyiah (tercela) qobihah/madzmunah  dasarnya adalah naluri, pendapat manusia, fikiran, aliran filsafat, dll. Point terpenting dari akhlaq sayyiah adalah seorang muslim yang beramal ibadah di luar lembaga mulkiyatullah, sehingga tidak akan bernialai sedikitpun, bagaikan mengukir diatas air.

Akhlaq hasanah hanya akan bisa berjalan atau di laksanakan dengan landasan empat pilar yaitu aqidah, syariah, qiyadah, dan daulah. Dengan demikian akhlaq hasanah hanya akan bisa berjalan dengan sempurna di bawah naungan suatu mulkiyatullah. Akhlaq Hasanah inilah yang akan melahirkan Akhlaq Adzimah dan Karimah.
Karakteristik Akhlaq
Kriteria-kriteria yang telah ditetapkan oleh Al-Quran dan Sunnah, mengandung muatan universalistik dan partikularistik. Muatan universalistik merupakan “common platform”(titik persamaan) nilai-nilai moral lain yang ada di dunia, sedangkan muatan partikularistik menunjukkan ciri khas dan karakteristik akhlak Islam yang berbeda dengan yang lainnya. Ciri khas dan karakteristik akhlak Islam itu meliputi :

  1. Rabbaniyah. Akhlak rabbaniyah memiliki pengertian bahwasanya wahyu Ilahi merupakan “reference source” (sumber rujukan) ajaran akhlak. Rabbaniyah maksudnya adalah sesuai dengan wahyu Allah yaitu Al-Quran dan juga sunnah Nabi Muhammad SAW. Mengapa sunnah nabi juga? karena apa yg diucapkan dan dikerjakan oleh nabi semata-mata tidak memeperturutkan hawa nafsunya melainkan atas bimbingan Allah SWT. Simak firman Allah berikut:“dan tiadalah yang diucapkannya itu  menurut kemauan hawa nafsunya.” (Q.S. An-Najm 53: 3). Tugas utama rosul diutus di muka bumi ini adalah menyempurnakan akhlak manusia. “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan kemulian akhlak.“ (H.R. Bukhari)
  2. Akhlak insaniyah mengandung pengertian bahwa tuntutan fitrah dan eksistensi manusia sebagai makhluk yang bermartabat, sesuai dan ditetapkan oleh ajaran akhlak. Orientasi akhlak insaniyah ini, tidak terbatas pada perikemanusiaan yang menghargai nlai-nilai kemanusiaan secara umum, tetapi juga mencakup kepada perikemakhlukan, dalam pengertian menanamkan rasa cinta terhadap semua makhluk Allah.
  3. Syumuliyah adalah bersifat universal (‘alamiyah) dan komprehensif (syumul). Mengapa bisa begitu? karena wahyu itu berasal dari Allah, raja dan pengatur alam semesta, maka wahyunya bersifat universal untuk semua makhluk ciptaannya dan komprehensif mencakup seluruh aspek kehidupan. Katakanlah : “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin, lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang mena’jubkan, memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak  beranak.” (Q.S. Al-Jin 72: 1-3). Kebaikan yang terkandung di dalamnya sesuai dengan kemanusiaan yang universal, kebaikannya untuk seluruh umat manusia di segala zaman dan di semua tempat, mencakup semua aspek kehidupan baik yang berdimensi vertikal maupun yang berdimensi horisontal.
  4. Akhlak wasithiyah berarti bahwasanya ajaran akhlak itu menitikberatkan keseimbangan (tawassuth) antara dua sisi yang berlawanan, seperti keseimbangan antara dunia dan akhirat. Allah swt dalam firman-Nya mengilustrasikan tentang dua kelompok manusia yang memiliki sifat saling berlawanan.

Kelompok pertama hanya memprioritaskan kehidupan dunianya, dengan sekuat tenaga berusaha memenuhi tuntutan-tuntutan hedonistiknya dan membunuh kesadarannya akan kehidupan akhirat. Sedangkan kelompok yang kedua berusaha menyeimbangkan kepentingan hidupnya di dunia dan di akhirat serta merasa takut akan siksa neraka.

Kelompok yang kedua selalu yakin akan janji Allah bahwa urusan dunia sudah ada ketetapannya, seperti rizki, dll, sementara untuk urusan akhirat yang harus di perjuangkan dengan segala daya dan upaya. Kelompok pertama akan mendapatkan keinginan-keinginan duniawinya, namun di akhirat tidak mendapatkan apa-apa, sedangkan kelompok yang kedua benar-benar akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di

dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (Q.S Al-Qasas 28: 77)

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat nya pula”. (QS:Az-Zalzalah 99:7-8) “Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa:

Akhlaq Islam harus di buktikan (bersifat aplikatif). Sarananya adalah lembaga. Akhlaq seorang muslim merupakan refleksi dari pelaksanaan dirinya terhadap hukum-hukum syara’.   Seseorang tidak disebut berakhlaq Islam ketika nilai-nilai akhlaq tersebut dilekatkan pada perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah. Misalnya, Anggota parlemen yang suka membuat aturan-aturan kufur juga tidak bisa disebut memiliki akhlaq Islam, meskipun ia terkenal jujur, amanah dan seterusnya. Sebab, nilai-nilai akhlaqnya telah melekat pada perbuatan haram, dan nilai akhlaknya menunjukkan nilai keimanannya.

Semakin banyak pekerjaan haram yang dia lakukan, maka semakin menunjukkan kerendahan imannya. Akhlaq selalu terkait erat dengan iman. Iman itu adalah diyakini di dalam hati, diucapkan dengan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Diamalkan dengan perbuatan itu adalah zhohiroh. Sehingga zhohiroh akan menunjukkan seberapa tinggi tingkat keimanan seseorang.
Tadaruz (bertahap).

Akhlaq dari menyemai benih sampai menuai hasil. Cara mengaplikasikannyapun harus bertahap. Aplikasi akhlaq akan berjalan seiring dengan tingkat keimanan seseorang, seseorang yang memiliki tingkat keimanan nurul fitroh, maka akhkaqnya pun akan berada pada posisi yang sama dengan tingkat keimanannya, sehingga seorang yang secara keimanan belum mampu muqorrobah, maka kualitas akhlanya pun akan setera dengan kadar keimanannya. Artinya tidak mungkin ada seorang yang memiliki akhlaq adzimah, namun kadar keimanannya pada taraf ma’rafiah, Akhlak memperhatikan kenyataan (realitas) hidup manusia, bahwasanya manusia itu di samping memiliki kualitas-kualitas unggul, juga memiliki sejumlah kelemahan. Firman Allah berikut memperjelas kondisi objektif manusia paling mendasar: “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. (Q.S. 91:7-8). Ayat di atas memberikan pemahaman bahwasanya manusia memiliki dua potensi yang berhadapan secara diametral.