Assigment 3

Instructions

Rangkum pertemuan 3, sertakan pembuktiannya !

Status : Tercapai
Keterangan : Sudah Mengerjakan
Pembuktian :

Rangkuman Materi
Pengantar Aqidah Tauhid (Iman Seseorang)
1. Makna dan Kedudukan Aqidah Tauhid (iman seseorang)
Secara bahasa (etimologis) aqidah berasal dari kata    yang berarti ikatan, tali. Secara bahasa kata aqoda dapat dilihat dalam (QS:4:33, QS:5:89, QS:5:1, QS:2:235). Ketiga ayat pertama berkonotasi ikatan perjanjian (uqud, aqdul, aiman), baik janji terhadap Allah maupun antara sesama muslim. Pada surat 2:235 berbicara tentang aqad nikah, dimana seseorang dilarang menikahi seorang wanita sebelum habis masa ‘iddahnya. Aqad nikah adalah sebuah ikatan yang dengannnya menghalalkan hubungan dan membatasi hak dan kewajiban, bagi ikhwan dan akhwat yang bukan muhrim. Pengertian kata aqad dari ayat-ayat diatas menunjukkan sebuah ikatan perjanjian yang didalamnya mengandung konsekuensi-konsekuensi tertentu.
Manusia adalah makhluk yang beraqidah/terikat, baik ia terikat pada Allah sebagai penciptanya (aqidah tauhid) maupun aqidah-aqidah diluar Allah (aqidah syirik). Saat seorang manusia telah bersyahadah sebagai seorang muslim, maka dia akan terikat dengan aturan Allah dan Rasul-Nya (beraqidah tauhid), seperti harus menjalankan seluruh perintah Allah. Jika dia tidak mau terikat dengan aturan Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah bebas dari aturan Allah Rasul-Nya tetapi dia akan masuk kepada ikatan selain Allah dan Rasul-Nya (beraqidah syirik).
Aqidah sebagai ikatan/tali pengendali maksudnya aqidah berfungsi sebagai sesuatu yang mengendalikan dan mengarahkan kehidupan seorang manusia sehingga ia dapat berjalan dengan arah tujuan yang benar sesuai dengan hakekat eksistensi dirinya. Yang dimaksud dengan arah tujuan yang benar adalah harus sesuai dengan ketetapan Allah dan Rasul-Nya.
Aqidah sebagai ikatan pembatas dapat diilustrasikan dengan seekor kuda yanng diikat pada sebuah patok (tiang). Tali yang mengikatnya memberi batasan radius dari ruang geraknya, dimana ia tidak bisa keluar dari batasan tersebut
Secara istilah aqidah berarti keyakinan atau keimanan. Istilah aqidah tidak terdapat dalam Al Qur’an, namun Al Qur’an menggunakan kata iman untuk menunjukan makna aqidah tersebut. Fungsi aqidah sebagai dasar/ikatan sama seperti halnya fungsi iman. Iman adalah sesuatu yang mengikat dan menjadi dasar pengendali kehidupan seorang (muslim). Iman menurut definisi para ulama adalah

membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan”
Mengucapkan dengan lisan itu adalah iqror syahadah yang di maksud dari pertanyaan diatas.
Dari definisi tersebut iman/keyakinan mengandung dua aspek (wujud menifestasi) yakni aspek batiniah berupa tasdiq biqolbi dan aspek lahiriah berupa iqror billisan atau iqror syahadah dan qobilul bil arkan, sebagai pembuktian dari pembenaran dalam hati. Jadi iman adalah kesatuan antara aspek bathiniah dan lahiriah. Dalam hadits dinyatakan :

“iman itu bukan khayalan atau angan-angan dan bersifat konkrit (material) tetapi sesuatu yang bersemayam dalam hati nafsiyah(dan dibuktikan dengan amal)”.
Dari keterangan hadits tersebut, menegaskan bahwa iman adalah sesuatu yang aplikatif/dhohir, bukan hayalan/angan-angan tetapi sesuatu yang berwujud dalam realitas dan menjadi dasar dari seluruh aspek kehidupan.
Iman dilukiskan oleh Al-Qur’an sebagai cahaya (nur) (lihat QS:24:35), yakni sebuah cahaya yang dengannya manusia dapat berjalan dengan benar (QS:6:122). Maksudnya seseorang yang beriman (diawali dengan meyakini didalam hati/qolbu dilanjutkan dengan dengan iqror billisan atau iqror syahadah akan memahami batas-batas yang harus ditaatinya serta mampu mengarahkan dan mengendalikan seluruh aktivitasnya sesuai dengan cahaya tersebut.
Kedudukan aqidah (keimanan/keyakinan) adalah sangat fundamental. Fungsi aqidah adalah sebagai asas-dasar yang menjadi landasan dari seluruh tatanan aktivitas hidup manusia. Landasan dari seluruh tatanan aktivitas hidup manusia akan bernilai jika di awali dengan melakukan dan mengucapkan iqror billisan atau iqror syahadah, sebagai bukti konkrit keimanan seseorang, sebab kedudukan iman ini diumpamakan Al-Quran seperti sebuah “akar” pohon. Akar berfungsi sebagai asas dasar sekaligus sebagai penopang dari seluruh bangunan yang tumbuh diatasnya. Seperti dilukiskan dalam QS:14:24-25. Yang artinya adalah :

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan “Khalimah Thoyyibah” seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buihnya pada setiap musim dengan seizin Allah. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”(24-25).

Dan perumpamaan “Khalimah Khobisyah” (kalimat yang buruk) seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tegak sedikitpun”(26).

Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh (qobilu syabit) dalam kehidupan di dunia dan di akherat; Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki”(27).
Ayat ini menjelaskan tentang dua jenis pohon yang memiliki sifat-karakteristik (ciri) berbeda dan saling bertolak belakang. Pertama adalah syajaroh thoyyibah yang dilukiskan sebagai pohon yang memiliki akar yang kuat dan menghujam ke bumi. Dari dasar (akar) ini akan melahirkan cabang dan dahan yang menjulang ke langit. Dan pada setiap musim menghasilkan buah-buah yang lebat dan bermanfaat.
Jenis pohon kedua adalah syajaroh khobisah yang digambarkan sebagai pohon yang tercabut akarnya. Sesungguhnya ia adalah pohon yang mati, namun nampak seperti hidup karena menyandar terhadap sesuatu (QS:63:4), jika tempat yang menjadi sandarannya hilang, maka dengan sendirinya ia akan runtuh.
Syajaroah (pohon) dalam penjelasan ayat di atas adalah lukisan tentang aqidah (iman), sebuah pohon tergantung pada akarnya. Jika akarnya kuat dan menghujam ke bumi, maka akan kuat pula cabang dahan, ranting dan daunnya. Hanya ada dua jnis pohon dalam hidup ini yakni syajaroh thoyyibah (atau aqidah tauhid) dan syajaroh khobisah (aqidah syirik).
Kehidupan manusia yang dilandasi oleh iman (aqidah) adalah wujud kehidupan yang mengakar dan memiliki dasar yang kuat ia akan tumbuh dan berkembang serta menghasilkan buah-buah (natijah) layaknya pohon yang baik (syajaroh thoyyibah). (QS:49:15, 8:72-75, 48:29) Sebaliknya kehidupan yang tidak dilandasi oleh aqidah adalah kehidupan yang rapuh yang mudah runtuh seperti halnya syajaroh khobisyah. Karena ia tidak dilandasi oleh dasar yang kuat, melainkan disandarkan terhadap sesuatu yang rapuh dan tidak mengakar ke dalam hakekat manusia itu sendiri(QS:63:4, 24:39-40, 2:8-20, 49:14).

2. Pengertian Tauhid
Tauhid secara bahasa berasal dari kata “wahhada-yuwahhidu” yang berarti satu atau menyatukan/kesatuan. Tauhidullah berarti mengesakan Allah, yakni mengesakan Allah dalam seluruh eksistensi-Nya, baik Dzat, Sifat, Asma’ dan af’al.

Dia menciptakan kamu dari seorang diri, kemudian Dia jadikan daripada istrinya dan dia menurunkan untuk kamu dlapan ekor yanng berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat)demikian itu adalah Allah roh kamu sekalian sekalian yang mempunyai kerajaan. Tidak ada tuhan kecuali Dia, maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?”.(QS:39:6).
Dari penjelasan ayat tersebut jelas bahwa eksistensi Allah ini meliputi Rububiyah, Uluhiyah, dan Assma’ Assifat. Di bawah ini secara ringkas akan diterangkan makna dari ketiga hakekat tauhid tersebut :

  1. Tauhid Rububiah yang hakekatnya meliputi :
  1. Rob sebagai Kholiq (baik pencipta manusia dan alam semesta (96:1-2, 2:21, 23:12-14, 25:59, 7:54, 10:3)
  2. Rob sebagai Arrozaq (pemberi rizki) (Qs.2:22, 6:151, 17:31, 6:151, 62:10, 106:3, 34:16, 36, 39:32:72)
  3. Rob sebagai Mudabbir (pengatur, pemelihara, pengurus) (Qs. 10:13, 1:2, 114:1, 45:36, 43:46, 13:2-4)
  4. Rob sebagai Murobi (pendidik) (Qs.96:4-5, 12:6, 37, 101)
  5. Rob sebagai Al-Mallik (pemilik) (Qs. 106:3, 18:58)
  6. Rob sebagai sumber pembuat hukum (Qs. 42:13, 12:40, 18:26, 5:114, 42:10,45:18)

Tauhid Rububiyah berarti menegaskan Allah dengan Menjadikan-Nya sebagai satu-satunya sumber otoritas dan legalitas hukum yang haq serta menafikan segala sumber hukum selain yang ditetapkan Allah.

  1. Tauhid Uluhiyah, yang mengandung makna bahwa hanya Allah tempat dan pusat dari segala yang dipinta, dimaksud, diibadahi dan tidak ada yang maujud kecuali Allah (QS: 2:163, 13:13, 23:23, 18:110, 24:55, 98:5, 39:2,11,14).

Perwujudan dari sikap tauhid adalah ikhlas terhadap Allah dan terhadap Din-Nya seperti dijelaskan dalam QS:98:5 (“mukhlisina lahuddin”). Din Islam merupakan manifestasi dari eksistensi Rububiyah Allah, yakni Allah sebagai satu-satunya sumber hukum yang haq. Sehingga seseorang beraqidah (tauhid Rububiyah) adalah ketika ia terikat dan mengikatkan hidupnya dengan din Islam, dengan menjadikan din Islam sebagai satu-satunya sumber hukum, sebagai pengaturan dan pemeliharaan Allah di muka bumi. Din Islam ini yang menjadi sarana (wasilah/haflun) pengabdian kepada Allah (tauhid uluhiyah) didalam din-nya (dienul Islam). Lawanan dari sikap tauhid adalah syirik (menyekutukan Allah), yakni menjadikan selain Allah sebagai dasar aqidahnya. Demikian dengan sikap syirik meliputi Rububiyah, Uluhiyah dan Assma’ Assifat.

Tergolong dalam sikap syirik adalah memisahkan kesatuan antara Rububiyah, Uluhiyah Allah, serta Assma’ Assifat nya Allah tersebut. Misalnya hanya mengakui aspek uluhiyah dan menolak rububiyah Allah. Atau hanya mengakui eksistensi Allah sebagai Khaliq namun menolak menjadikan eksistensi Allah sebagai sumber hukum. Bentuk syirik lainnya adalah memisahkan antara Allah dan Rasul-Nya seperti QS:4:150.

melarang untuk memikirkan tentang Dzat Allah, tetapi memerintahkan untuk mengenali ciptaan-Nya dengan mengenali ciptaan-Nya maka akan dikenali pula eksistensi dari penciptaan-Nya (Allah SWT). Al-Quran menegaskan tentang hakekat eksistensi Allah dalam awal pembukaan dan akhir surat di dalam Al-Quran (QS:Al-fatihah:1-4 dan Annas:1-3) juga dalam QS:39:6.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya, dan bermaksud memecah belah antara Allah dan Rasul-rasul-ya, denga mangatakan : “kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian yang lainnya”, sera bermaksud mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian (iman atau kafir)”. Memisahkan antara din takwin dan din tasyri’ termasuk syirik sebagaiamana dalam QS:2:21-23.

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal Kamu mengetahui.

Dan jika kamu (tetap) memiliki keraguan tentang Al-Qru’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”. (QS:23:52-53).

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberpa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)”. Manifestasi dari sikap syirik tersebut adalah menolak dan ingkar terhadap Din (din Islam). Kalau tauhid diwujudkan dengan ikhlas terhadap Allah dengan menegakkan din-Nya, sedangkan syirik adalah sebaliknya yakni memecah belah din Islam (“farroqum dinahum”) seperti ditegaskan dalam QS:30:31-32.

Janglah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrikin). Yaitu orang-orang yang memecah belah din mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”.

Seseorang yang beraqidah tauhid adalah apabila ia telah mampu melepaskan diri dari belenggu keterikatan dari selain Allah menuju kepada ikatan (aqidah) tauhid, dengan menjadikan Allah sebagai pusat, dasar dan sumber dari seluruh aktualisasi hidupnya. Aqidah tauhid ini yang akan membebaskan manusia dari belenggu yang mengikat eksistensi manusia. Karena hakekat sesungguhnya dari kebebasan (kemerdekaan) seorang manusia adalah ketika ia mampu keluar dari segala ikatan belenggu hidup selain dari pada ikatan Allah dan kemudian masuk ke dalam belenggu ikatan Allah (Aqidah tauhid), sebagai Rob, Malik dan Allah sebagai khaliq dan murob dari seluruh makhluk.

Aqidah tauhid inilah yang menjadi azas da’wah para Nabi, dimana seluruh nabi dan rosul menyeru kepada manusia untuk mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. (Seperti: Nabi Nuh=7:59, 23:23; Nabi Hud=7:65, 11:50; Nabi Sholeh=7:73, 11:61; Nabi Syu’aib = 7:85, 11:84, dll).

Pertanyaan :

1.Secara bahasa kata aqoda dapat dilihat dalam (QS:4:33, QS:5:89, QS:5:1, QS:2:235). Ketiga ayat pertama berkonotasi:
Ketiga ayat pertama berkonotasi ikatan perjanjian (uqud, aqdul, aiman), baik janji terhadap Allah maupun antara sesama muslim. Pada surat 2:235 berbicara tentang aqad nikah, dimana seseorang dilarang menikahi seorang wanita sebelum habis masa ‘iddahnya.

2. Ditinjau dari segi fungsinya istilah “aqidah” mengandung beberapa arti yakni

  • Pertama sebagai ikatan yang membatasi, mengekang dan membelenggu.
  • Kedua, ikatan yang mengendalikan dan memberi arah.

3. Di dunia ini tidak ada manusia yang bebas, buktinya setiap manusia punya cita-cita/tujuan hidup, setiap manusia tidak mungkin hidup sebatang kara tanpa bantuan orang lain atau makhluq lain. Misalnya:
Seorang karyawan pabrik berhenti bekerja dengan alasan tidak mau terikat dengan waktu kerja, sehingga dia alih profesi jualan seafood dimalam hari. Apakah sang karyawan tersebut bebas ? benar dia bebas dari waktu kerja pabrik jam 8-17 setiap hari, tapi dia telah terikat dengan waktu kerja lainnya yaitu harus buka dari jam 17-23 setiap hari, jika dia tidak jualan, maka tidak dapat uang, jika tidak jualan beberapa hari maka tempat dagangnya akan di ambil oleh pedagang lain.
4. Arah, tujuan dan cita2 hidup seorang yang beraqidah tauhid adalah ukhrawi sementara arah, tujuan dan cita2 hidup seorang yang beraqidah syirik adalah duniawi. Jelaskan:
Manusia adalah makhluk yang beraqidah/terikat, baik ia terikat pada Allah sebagai penciptanya (aqidah tauhid) maupun aqidah-aqidah diluar Allah (aqidah syirik). Saat seorang manusia telah bersyahadah sebagai seorang muslim, maka dia akan terikat dengan aturan Allah dan Rasul-Nya (beraqidah tauhid), seperti harus menjalankan seluruh perintah Allah. Jika dia tidak mau terikat dengan aturan Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah bebas dari aturan Allah Rasul-Nya tetapi dia akan masuk kepada ikatan selain Allah dan Rasul-Nya (beraqidah syirik).
5. Secara istilah aqidah berarti keyakinan atau keimanan. Istilah aqidah tidak terdapat dalam Al Qur’an, namun Al Qur’an menggunakan kata iman untuk menunjukan makna aqidah tersebut. Fungsi aqidah sebagai dasar/ikatan sama seperti halnya fungsi iman. Iman adalah sesuatu yang mengikat dan menjadi dasar pengendali kehidupan seorang (muslim). Iman menurut definisi para ulama adalah

membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan”.
6. Jelaskan perbedaan tauhid rububiyah dan uluhiyah:
Tauhid Rububiyah berarti menegaskan Allah dengan Menjadikan-Nya sebagai satu-satunya sumber otoritas dan legalitas hukum yang haq serta menafikan segala sumber hukum selain yang ditetapkan Allah.
Tauhid Uluhiyah, yang mengandung makna bahwa hanya Allah tempat dan pusat dari segala yang dipinta, dimaksud, diibadahi dan tidak ada yang maujud kecuali Allah
7. Seseorang beraqidah (tauhid Rububiyah) adalah ketika ia:
Seseorang beraqidah (tauhid Rububiyah) adalah ketika ia terikat dan mengikatkan hidupnya dengan din Islam, dengan menjadikan din Islam sebagai satu-satunya sumber hukum, sebagai pengaturan dan pemeliharaan Allah di muka bumi.
8. Lawanan dari sikap tauhid (aqidah tauhid) adalah:
Lawanan dari sikap tauhid adalah syirik (menyekutukan Allah), yakni menjadikan selain Allah sebagai dasar aqidahnya.
9. Tergolong dalam sikap syirik adalah memisahkan kesatuan antara:
Tergolong dalam sikap syirik adalah memisahkan kesatuan antara Rububiyah, Uluhiyah Allah, serta Assma’ Assifat nya Allah tersebut
10. Secara takwini pada hakekatnya semua manusia tidak bisa mengelak dan menolak terhadap eksistensi Allah tersebut. Sehingga yang menjadi persoalan aqidah-tauhid sesungguhnya adalah:
Yang menjadi persoalan aqidah-tauhid sesungguhnya adalah bagaimana sikap manusia dalam menegakkan eksistensi Allah tersebut dalam kehidupan syar’inya, yakni merealisasikan dan mewujudkan secara dhohir aqidah tauhid sebagai sistem dan tatanan hidup manusia
11. Seseorang yang beraqidah tauhid adalah apabila ia telah mampu melepaskan diri dari belenggu:
Seseorang yang beraqidah tauhid adalah apabila ia telah mampu melepaskan diri dari belenggu keterikatan dari selain Allah menuju kepada ikatan (aqidah) tauhid, dengan menjadikan Allah sebagai pusat, dasar dan sumber dari seluruh aktualisasi hidupnya.
12. Silahkan kunjungi www.ustalbahra-nurulhidayah.net lalu, masuk ke modul publikasi lembaran da’wah nurul hidayah, kemudian down load salah satu edisi bulletin dengan ketentuan bagi mahasiswa/i yg NIM nya berakhir ganjil, maka mendawnload tahun genap (2008, 2010, 2012), dan bagi mahasiswa/i yg NIM nya berakhir genap, maka mendawnload tahun ganjil (2007, 2009, 2011). Setelah itu buat rangkuman isi tulisan tersebut minimal 250 kata. :